Sep
09
2010
Today
Banner

Who's Online

Terdapat 1 Tamu online
Jumlah Kunjungan Konten : 33647
Ikut English Club di MRC…., mau dong!

“In the name of AllahMost gracious, Most MercifulLord, put courage into my heartEase my task for meAnd loosen the knot of my tongueSo that, they may understand my wordsAmin…”Dalam waktu kurang...
Selengkapnya...

Memupuk Kecerdasan Spiritual
Oleh Administrator Yasmin   
Selasa, 31 Maret 2009 09:00

BIAR sudah menyabet banyak prestasi, namun presenter dan pencipta lagu Irianti Erningpraja (38) masih belum merasakan kepuasan. Irianti memang merasa bangga akan semua prestasi yang berhasil diraihnya, namun hati Irianti masih merasa kosong. Seolah tidak ada sesuatu yang besar telah terjadi, (Kompas, 13/5).

BEBERAPA lagu saya sudah dibawakan pemain saksofon Dave Koz, pianis Jeff Lorber, dan penyanyi country Victoria Show. Tetapi, aku tidak merasakan sesuatu di hati saya," kata Irianti dalam sebuah kesempatan.

Prestasi Irianti juga tercetak di dunia olahraga. Berulangkali dia memperoleh medali di tingkat internasional. Di tingkat SEA Games, Irianti pernah menyabet medali emas untuk renang tahun 1977. Di tingkat Asian Games, Irianti juga pernah menyabet medali perunggu pada tahun 1979. Namun, segudang prestasi ini hanya berlalu begitu saja di hati Irianti.

Di bidang akademis, Irianti juga pernah mendapatkan beasiswa dan dia juga tercatat sebagai alumni Jurusan Statistika Institut Pertanian Bogor.

Irianti juga merasa dirinya cepat sekali marah. Ada orang salah sedikit kepadanya, dia pasti marah. Bahkan, Irianti sempat mengubah namanya karena kesal banyak orang salah menulis namanya.

Kegelisahan hati Irianti mulai reda ketika dia membaca buku-buku tentang pengembangan diri. Terutama soal kecerdasan spiritual. Irianti mulai menyadari, walaupun dia punya segudang kecerdasan, tetapi jika tidak dibarengi dengan kecerdasan spritual, jiwanya tidak akan merasakan kebahagiaan.

IRIANTI Erningpraja hanya satu contoh dari ribuan, bahkan jutaan anak yang tidak mampu merasakan kebahagiaan atas apa yang telah mereka raih. Mereka tumbuh seperti itu karena dalam proses mengasuh anak, orangtua sering mengabaikan kecerdasan spiritual anak.

Kecerdasan spiritual bukan berarti anak tersebut mampu melakukan ritual keagamaan dengan baik, tetapi anak percaya akan adanya kekuatan nonfisik yang lebih dari kekuatan diri manusia. Sebuah kesadaran yang menghubungkan manusia dengan Tuhan lewat hati nurani.

Menurut Prof Dr Komaruddin Hidayat, Direktur Eksekutif Pendidikan Madania, hakikat spiritual anak-anak tercermin dalam sikap spontan, imajinasi, dan kreativitas yang tak terbatas, dan semuanya ini dilakukan dengan terbuka serta ceria.

"Sesungguhnya spiritualitas tidaklah identik dengan religiositas, sekalipun keduanya sangat berdekatan dan saling menopang," kata Komaruddin, dalam seminar "Meningkatkan Kecerdasan Anak" yang diselenggarakan Majalah Bobo, beberapa waktu lalu.

Spiritualitas adalah dasar bagi tumbuhnya harga diri, nilai-nilai, dan moral. Spiritualitas memberi arah dan arti pada kehidupan. Hidup menjadi indah dan menggairahkan karena diri manusia tidak hanya dikurung oleh batas-batas fisik.

Karena jiwa anak-anak intuitif dan terbuka secara alami, maka orangtua dan guru hendaknya selalu memelihara dan memupuk spiritualitas anak, sumber keceriaan, dan makna hidup. "Caranya dengan melalui perkataan, tindakan, dan perhatian pada indahnya alam. Pada matahari terbit, pada awan yang berarak-arakan, pada langit biru, atau pada burung terbang. Bawalah anak-anak memperhatikan perilaku alam yang akan mengundang ketakjuban anak terhadap keindahan alam. Di mana ada ketakjuban, di sana ada spiritualitas," kata Komaruddin.

Anak-anak memiliki hati polos dan bening. Segala yang tampak biasa akan menjadi indah dan mengundang ketakjuban, jika dilihat dengan hati yang bening dan sikap santun, serta cinta pada alam dan kehidupan. Komaruddin berpendapat, "Orangtua pantas belajar pada anak, bagaimana memperoleh kembali kesucian, keceriaan, spontanitas, dan kedamaian dengan alam dan Tuhan. Dengan merawat spiritualitas anak, orangtua akan membantu mereka menatap dan mendesain masa depan dengan tatapan yang bening, optimis, dan yakin."

MENURUT Komaruddin, ada sepuluh panduan yang bisa diikuti untuk menumbuhkan dan mengembangkan kecerdasan spiritual.

1. Ajarkan kepada anak bahwa Tuhan selalu memperhatikan kehidupan kita. Melalui latihan berdoa dan pembiasaan ritual akan bisa memperhalus perasaan dan mencerdaskan spiritualitas anak. Dalam hal ini, penting bagi orangtua untuk selalu memberi contoh yang bagus di mata anak.

2. Ajarkan kepada anak-anak bahwa hidup dan kehidupan ini saling berhubungan. Tak mungkin kita hidup sendiri, mencukupi semua yang diperlukan. Keterkaitan ini tidak saja antara sesama manusia, melainkan juga dengan lingkungan alam, seperti udara, air, cahaya, tumbuhan, hewan, bahkan sampai bakteri yang ikut menopang hidup kita.

3. Jadilah orangtua sebagai pendengar yang baik bagi anak-anaknya. Jika anak bicara jangan buru-buru dipotong lalu diceramahi. Dengarkan dan perhatikan dengan tatapan mata yang penuh antusias dan stimulatif agar anak terlatih mengutarakan pikiran dan emosinya dengan lancar, tertib, dan jernih. Ibarat sumur, kalau sering ditimba maka airnya akan jernih.

4. Ajarkan anak-anak untuk menggunakan kata dan ungkapan yang bagus, indah, dan mendorong imajinasi. Kalau sulit, bisa dikemukakan melalui bacaan yang bagus. Biasakan membeli dan membacakan buku buat anak-anak kita. Kalau anak tertarik, bisa dibacakan berulang kali agar merasuk lebih dalam lagi pesan dan bekasnya.

5. Dorong anak-anak untuk berimajinasi tentang masa depannya dan tentang kehidupan. Imajinasi akan melatih anak selalu berpikir hal-hal yang melampaui batas materi dan ini akan mencerdaskan spiritualnya. Imajinasi juga akan mengaktifkan otak kanan yang cenderung berpikir holistik, intuitif, dan imajinatif.

6. Temukan dan rayakan keajaiban yang terjadi setiap hari atau minggu. Jangan sampai hidup dilalui secara rutin dan mekanis. Banyak terjadi keajaiban setiap hari yang harus diberi makna, disyukuri, dan dirayakan sekalipun dengan cara yang sederhana, asal memberikan sentuhan hati pada anak.

7. Berikanlah ruang kepada anak untuk berkreasi, menentukan program dan jadwal kegiatan. Anak yang terlalu diatur dan didikte orangtua bisa tumbuh menjadi pemberontak atau sebaliknya menjadi pasif, tidak terbiasa dengan inisiatif. Ajarkan kepada anak untuk bisa memahami pilihan-pilihannya.

8. Jadilah cermin positif bagi anak-anak. Dalam kehidupan rumah tangga tanpa disadari masing-masing merupakan aktor yang selalu dilihat dan dinilai oleh yang lain. Maka jadilah aktor atau model peran yang baik bagi anak-anak. Sekali-sekali adakan forum untuk saling menyampaikan kesan dan penilaian yang satu kepada yang lain dalam suasana yang rileks, nyaman, tanpa tekanan. Bahkan masing-masing harus bisa menghargai yang lain.

9. Sekali-sekali ciptakan suasana yang benar-benar santai, melepaskan semua ketegangan dan kepenatan fisik maupun psikis. Inilah yang dimaksud rekreasi melalui relaksasi. Ada sebuah keluarga yang bentuk relaksasinya adalah membaca buku.

10. Setiap hari adalah istimewa, yang wajib dihayati dan disyukuri. Setiap pagi ajak anak-anak untuk bersyukur pada Tuhan sambil menatap langit, matahari, pohon-pohonan. Sampaikan terima kasih dan pujian atas kebaikan dan keindahan yang selalu hadir menyertai kita tanpa memungut bayaran. (ARN)

From: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0305/18/keluarga/312326.htm

 

Terakhir Diupdate ( Selasa, 31 Maret 2009 09:02 )
 
  
Banner

Modul Pembelajaran

Belajar Sains dengan PAKEM

article thumbnailOleh : ABD Sufri (Guru MI Raudhatul Muta’allimin)”Hore!!!! Air yang kita masak sudah mendidih!”, teriak Ageng dan teman-teman kelompoknya. ”Air saya juga sudah mendidih’, gumam Eha tak mau...
Selengkapnya...

Buku lain:
Banner

Pendapat Anda

Kendala fundamental utama apa yang dihadapi madrasah
 
 

Inspirasi

Seorang Pemuda Mencari Guru Agama

article thumbnailAda seorang pemuda yang lama menjalani pendidikan di luar negeri namun tidak pernah belajar agama Islam, kini kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia diminta kedua orangtuanya untuk belajar agama Islam, namun ia memberi syarat agar dicarikan guru agama yang bisa menjawab 3 pertanyaan yang...
Selengkapnya...

Artikel lain:

Diskusi

Sudah Benarkah Puasa Kita?

article thumbnailRasulullah SAW bersabda : "Puasa adalah perisai (tabir penghalang dari perbuatan dosa). Maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan sesuatu yang keji dan janganlah ia berbuat jahil." (Hadits Riwayat Bukhari - Muslim)."Lima hal yang dapat membatalkan puasa: berkata...
Selengkapnya...

Artikel lain: