| Ikut English Club di MRC…., mau dong!“In the name of AllahMost gracious, Most MercifulLord, put courage into my heartEase my task for meAnd loosen the knot of my tongueSo that, they may understand my wordsAmin…”Dalam waktu kurang... Selengkapnya... |
| Siapa yang Bisa Menolong Kami ?? |
|
|
|
| Oleh Administrator Yasmin | |
| Selasa, 07 April 2009 15:07 | |
|
Sebuah kelas di SMP yang cukup terkenal, tampak seorang anak laki-laki yang ganteng, ramah dan lembut. Anak ini biasa dipanggil dengan Aldi. Diantara teman-teman seusianya Aldi terlihat polos dan sabar.
Hari itu Aldi sedang mengikuti pelajaran Bahasa Inggris. Aldi duduk diam dengan tatapan mata yang menerawang ke depan, sepintas kosong pandangannya. Siapapun, tidak tahu apa yang ada di pikiran Aldi. Memang, sekilas mata Aldi tidak memperhatikan atau apa yang sedang dijelaskan oleh gurunya. Setelah usai Bahasa Inggris, seperti minggu-minggu yang sebelumnya, pelajaran dilanjutkan dengan Matematika. Hal yang sama juga terjadi, dia tidak merespon terhadap pelajaran itu. Padahal, untuk pelajaran matematika cukup mudah bagi anak itu. Tetapi karena bahasa pengentar yang diapakai adalah bahasa Inggris –tututan kurikulum disekolah itu- membuat dia sulit mencernanya. Kejadian ini terus terulang setiap hari membuat Aldi semakin merasa kerdil, dan merasa dirinya memang tidak mampu. Bahkan suatu saat dia pernah curhat dengan salah satu gurunya “Aldi ingin bisa bahasa Inggris seperti teman-teman yang lain”. Bahkan ketika gurunya datang dia sempat berkata “ apakah Ibu dapat menolong Aldi?” mungkin itu semua adalah ungkapan tanpa harapan dari dalam hatinya, atau bahkan sebuah kekesalan, hanya Aldi dan Tuhan yang tau. Beruntung bagi Aldi, karena dia termasuk anak-anak yang pantang menyerah dan mau berusaha. Lain cerita bagi Lani, dia anak yang sangat periang dan juga lincah. Sekilas tidak tampak sama sekali jika memiliki masalah yang mirip dengan Aldi. Setiap hari bagi dia dalam sekolah adalah penjara. Semua tampak tidak ada arti, apa yang dia pelajari sedikit yang ia pahami. Bahkan dia tidak mengerti apa yang harus dikerjakan. Bahkan untuk membantunya harus ada intervensi dari guru pendamping. Bagi Lani dan orang tuanya dapat mengikuti ujian nasional sudah sangat membanggakan. **** Mereka mengalami keterlambatan dalam banyak hal, secara fisik mungkin mereka kelihatan sama dengan yang lain tetapi secara emosi dan mental sama sekali tidak. Biasanya mereka lebih lambat dalam hal motorik kasar maupun halusnya. Jika anak-anak sebaya mereka sudah mulai bisa berbicara mereka masih membisu, jika yang lain sudah bisa membaca mereka masih bejar bicara dan masih banyak hal-hal lain yang membuat mereka tertinggal jauh dari rekan-rekan sebayanya. Lantas adilkah buat mereka ketika ujian nasional itu disama ratakan dengan anak-anak yang normal, saya yakin semua orang akan mengatakan ini sebuah ketidak adilan. Tetapi inilah negeri yang semuanya harus dipaksakan. Betapa tidak, ketika mereka tidak dapat mengikuti kegiatan ujian dengan standar anak-anak normal, mereka tidak lulus dan mereka juga akan “mati” untuk mencari lanjutan sekolah buat diri mereka sendiri. Mestinya negara mengakomodasi anak ABK seperti ini dalam mengkases pendidikan. Anak ABK ini semakin hari akan semakin merasa dipaksa untuk sesuatu yang bagi mereka mungkin tidak ada gunanya. Bagaimana tidak mereka akan terus sebagai pecundang dalam pendidikan, mereka tidak akan lulus dalam ujian mereka tidak dapat memahami pelajaran yang diajarkan oleh gurunya. Ibarat sebuah meja anak ABK saat ini –terutama yang sudah masuk SMP- sudah terpotong empat kakinya, mereka sudah tidak berdaya. Lantas bagaimana peran sekolah, kami sebgai seorang guru agak nya dapat memahami kondisi sekolah, karena mereka juga tidak ada pilihan lain, mereka harus mengikuti aturan main yang ada dalam negeri ini. Adakah solusi bagi anak ABK ini, pastinya ada, tinggal apakah kita mau atau tidak. Sebenarnya mereka memiliki potensi yang sama dengan anak-anak normal yang lain tetapi mereka sedikit berbeda dan lebih lamban. KTSP, sering kita dengar, ini adalah celah bagi anak-anak seperti Aldi dan Lani untuk menunjukkan jati diri mereka. Sekolah atau pemerintah daerah dapat mengakomodasi mereka, alat dan model evaluasi yang tepat bagi mereka. Standar kelulusannya pun tentunya dapat dibuat sedemikian rupa sehingga mereka dapat berkompetisi dengan yang lain. Ibarat lomba anak-anak yang normal mengendarai mobil F1, sedangkan anak ABK ini menggunakan motor bebek biasa, pasti standar penilaian haruslah dibedakan. Bagi guru dan sekolah, mestinya juga memberikan penetrasi yang lebih dalam lagi untuk memahami anak ABK ini. Guru harusnya memahami kondisi anak ABK ini, karena mereka ini memiliki keterbatasan. Ketika tidak mampu dalam satu persoalan mestinya anak ini tidak perlu diberikan lagi target-target yang lebih tinggi. Tidak lah harus sebagai guru hanya mengejar target kurikulum dengan kompetensi yang tidak adil itu dipaksakan kepada anak ABK ini. Target yang terpenuhi akan tidak ada artinya, jika anak-anak tidak dapat menjalaninya. Prinsipnya, semua anak memiliki hak yang sama akan kasih saying, kemerdekaan dan juga pendidikan yang layak, janganlah anak-anak seperti Lani dan Aldi ini harus mati ditengah jalan hanya karena persoalan ketidak adilan. Jika semua tidak peduli, wajar saja dalam hati anak-anak ini akan menangis dan mengatakan “Siapa yang bisa menolong kami…??? Jika masih merasa ini bukan sebuah masalah, mari kita buku hati kita, bagaimana jika Aldi dan Lani itu adalah salah satu dari anak kita, mampukah kita.
|






