Sep
09
2010
Today
Belajar Dari Keterbatasan, Yusuf Menjadi Juara PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Rabu, 24 Desember 2008 07:54
Seperti pada umumnya madrasah ibtida’iyah swasta, MI Asholahiyah Pancoran Mas Depok adalah madrasah yang jauh dari hingar bingar kemewahan, jangankan fasilitas yang wah akreditasi yang dikeluarkan oleh badan akreditasi pun juga cukup menyedihkan yaitu C. Madrasah ini bukan berarti tidak mau bergerak, karena segala keterbatasanlah yang membuat mereka tidak mampu memberikan kepuasan dalam ukuran fisik.

Tetapi, kepala madrasahnya, Ustadz Munadih -biasa kami memanggil- meyakinkan kalau pendidikan itu tidak melulu soal fisik, tetapi lebih kepada aspek kualitas pembelajarannya. Yang dikembangkan oleh MI ini adalah mendorong guru-gurunya untuk semakin kreatif, karena untuk urusan finansial dan fisik kami memang belum mampu.

Hal ini tercermin bagaimana salah satu gurunya yaitu, Pak Yusuf, bulan Desember 2008  ini terpilih menjadi guru paling kreatif ke 2 di wilayah Jawa Barat yang diikuti oleh MI, MTs dan MA se Jawa Barat. Sarjana Dakwah jebolan IAIN Bandung ini memang berusaha menjadi guru yang terbaik dengan selalu berinovasi, selalu mencari sesuatu yang berbeda. Kurang lebih hampir 2 tahun Yusuf selalu menggunakan pendekatan PAKEM (pembelajaran aktif kreatif dan menyenangkan), begitu pula untuk soal RPP dan silabus dia tidak pernah melupaknnya. Sehingga dokumen pembelajaran yang ia pakai selalu terekam dengan baik.

Mengikuti lomba ini sebenarnya berawal dari ketidak sengajaan, ujar Yusuf, karena salah satu pengawas madrasah di wilayah Pancoran Mas meminta untuk mengukiti lomba itu hanya karena kebiasaanya bersama YASMIN (Yayasan Imdad Mustadh’afin) –salah satu lembaga philantropi yang peduli madrasah- belajar PAKEM dan juga manajemen pendidikan.

Ketika ditanya sebenarnya apa resep keberhasilannya Yusuf berseloroh karena kemiskinan dan kekurangan lah kami menjadi juara. Sebab, dengan segala keterbatasan kita menjadi tertantang, kami tidak bisa belajar berdasarkan teks book saja, kami mesti mendekatkannya kepada realitas, di kiri kanan kami sangatlah banyak sumber belajar yang dapat kita gunakan. Tak harus kita belanja dengan ratusan bahkan jutaan rupiah untuk membuat media pembelajaran. Kebiasaan dan keterbatasanlah yang membuat kretifitas itu muncul. Dan itulah modal untuk meyakinkan –dengan demontrasi- di depan para dewanjuri.

Jika menilik dari keberhasilan Yusuf tentunya, kita sebagai aktifis madrasah merasa sangat bangga, ini adalah hasil yang panjang dan berliku, betapa tidak, sudah hampir 2 tahun kami mendampingi rekan-rekan madrasah imbuh Dewi salah satu pendamping lapangan yang sering bersama Yusuf dan guru lain belajar bersama.  

Menjadi terbaik tidak harus terkukung oleh dominasi kemewahan, karena ternyata dengan keterbatasan fasilitas pun pembelajaran yang kreatif tetap bisa berlangsung. Banyak hal yang dapat dilakukan guru-guru, kaleng, tanaman, bekas botol air mineral tubuh kita, dan masih banyak lagi yang dapat kita eksplorasi tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. Model-model seperti inilah yang mestinya di duplikasi oleh para pembelajar-pembelajar di Indonesia.