Mentradisikan Marawis Cetak
Oleh Administrator   
Jumat, 26 Desember 2008 09:20

Oleh Dede Kurnia
MI. Nurul Islam Grogol Limo Depok

Dipinggiran kota kearah selatan Jakarta, tepatnya di kelurahan Grogol Limo Depok, tak jauh dari masjid yang terkenal karena kubahnya yang berlapiskan emas. Terdapat sebuah madrasah biasa orang menyebutnya Madrasah Nurul Islam, memilih marawis sebagai salah satu ekstra kurikulernya.

Bangunan sekolah yang sederhana yang terdiri dari 7 ruangan, 6 ruang untuk kelas dan 1 ruang guru. Dikelilingi pepohonan yang rindang dan halaman sekolah yang sekaligus dapat digunakan sebagai sarana ber olah raga seperti futsal, bola foli, dan bulu tangkis.

Berawal dari sebuah keinginan kepala madrasah, yaitu Pak Taufik Hidayat untuk menyalurkan bakat siswa/i di bidang seni, maka beliau menghadirkan ekstra kurikuler dibidang tersebut. Setelah menseleksi beberapa kesenian yang akan dijadikan ekskul di madrasah, akhinya ia memutuskan memilih kesenian marawis sebagai wadah bagi siswa/i-nya. Kesenian marawis adalah kesenian yang paling memungkinkan, ujarnya, karena ini yang paling dekat dengan tradisi kita dan agama kita.

Ustad Ahmad biasa dipanggil, sejak tahun 2006, ia telah diberikan kepercayaan untuk melatih anak-anak madrasah tersebut. Pada awalnya yang ikut bergabung dengan kegiatan in hanya segelintir anak saja, tak lebih dari 6 orang, itu pun hanya anak kelan enam saja. Tetapi, karena sudah semakin memasyarakatnya kesenian ini, saat ini yang bergabung untuk berkiprah di kegiatan marawis sudah mencapai puluhan anak.

Di sebuah ruang kelas, Nasrul dan kawan-kawanya sedang asik memainkan alat musik yang berasal dari tanah kelahiran Nabi Muhammad saw. “memainkan alat marawis ini gampang-gampang susah” ungakap siswa yang saat ini duduk di kelas lima ini. Dia menjelaskan lagi, pada awalnya menggunakan alat ini terasa sulit terutama untuk membuat kompak atar personel, terutama dalam hal nadanya. Tetapi, jika kita berlatih terus hasilnya akan sangat bagus, imbuh Nasrul percaya diri.

Saat ini, MI Nurul Islam telah memilik 3 group marawis, setaip group terdiri dari 15 orang. Ke depan kesenian marawis ini diharpkan mampu memberikan prestasi bagi sekolah. Pak Taufik berharap.