| Belajar dari Kelas Luar Biasa |
|
| Oleh Administrator | |||
| Selasa, 20 Januari 2009 10:44 | |||
|
Mengawali tahun ajaran baru dengan semangat baru tentu merupakan suatu keharusan bagi kita para guru. Biasanya saya membangun komitmen semacam itu. Berbagai rencana sudah tersusun di benak untuk dikembangkan di kelas. Namun sayangnya, rencana – rencana tersebut tidak saya tuliskan hingga ada beberapa yang tidak terlaksana karena lupa.
Tahun ajaran lalu, entah karena masih hangat setelah mendapat pelatihan Pakem (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menantang dan Menyenangkan) dari YASMIN dan LAPIS, atau karena anak-anaknya memang tipikal anak manis, saya merasa enjoy mengajar di kelas satu. Tapi tahun ini, belum genap dua bulan, rasanya saya hampir menyerah. Bayangkan, mengajar 36 orang anak di kelas IB yang mayoritas siswa siswinya tidak mengenyam pendidikan di TK dan belum bisa membaca dan menulis.
Awalnya saya pikir tidak sulit menghadapi kelas ini, karena bagi guru kelas I mengajari membaca dan menulis adalah hal biasa. Apalagi di madrasah, kondisi semacam ini menjadi fenomena. Tapi ternyata yang saya hadapi tidak sesederhana itu. Kelas ini, menurut saya (mungkin tidak menurut guru yang lain) adalah kelas yang ‘luar biasa’. Perilaku negatif menjadi hal yang lumrah. Mulai berteriak, menangis, suka memukul dan menendang antar teman, mencoret-coret buku teman, sampai yang selalu melawan bila ditegur atau diperingatkan. Kondisi badan yang kurang sehat menambah kompleks masalah yang saya hadapi.
Belum genap dua bulan mengajar di kelas IB , saya mendapat undangan untuk mengikuti pelatihan RPM (Rencana Pengembangan Madrasah) selama empat hari dari tanggal 25 sampai 28 Agustus 2008 yang diselenggarakan oleh YASMIN dan LAPIS di Puri Anindita Bogor. Selama empat hari itu, tugas mengajar di kelas IB digantikan oleh guru yang lain.
Sehari selepas pulang dari pelatihan di Bogor, saat sedang mengajar kembali di kelas, saya mendapati teman yang menggantikan mengajar selama saya mengikuti pelatihan sedang berdiri di depan kelas sambil memperhatikan kelas kami. Karena merasa ada yang aneh saya menemui guru tersebut dan bertanya : “ Ada apa Bu? Ada yang bisa saya bantu?”. Beliau menjawab sambil tertawa : “ Oh, saya hanya ingin lihat bagaimana keadaan kelas ini kalau Ibu yang mengajar. Masalahnya, selama menggantikan Ibu mengajar, saya kewalahan menghadapi anak-anak di kelas ini”. Wah, ternyata kelasku juga kelas yang luar biasa bagi guru yang lain.
Perasaan berkecamuk mendengar pertanyaan itu. Antara sedih karena merasa diri belum berhasil mendidik anak-anak dan lega karena ada teman yang berempati. Saya merenungkan perjalanan selama dua bulan bersama anak-anak, merekaulang cara-cara yang saya tempuh dalam mengatasi masalah anak-anak. Dan secara jujur saya akui : ‘saya telah banyak melakukan kekeliruan’. Sering terbawa emosi, menegur dan menghukum tidak dengan kasih sayang dan cenderung selalu menyalahkan. Hari-hari selanjutnya, saya berusaha memperbaiki cara mengajar. Di rumah saya selalu berusaha memulai pagi dengan hati yang lapang. Sesibuk apapun dengan pekerjaan rumah tangga, saya selalu berusaha menjaga agar hati tetap senang. Hati yang senang pada gilirannya menjadi modal yang berharga dalam menghadapi siswa siswi dengan berbagai masalahnya. Sebelum memulai pelajaran, saya sempatkan berinteraksi sebentar dengan siswa siswi yang biasanya berulah di kelas, membuat komitmen sederhana bersama mereka, berusaha memperlakukan mereka sebagaimana saya ingin orang lain memperlakukan saya, berusaha menyayangi mereka setulus hati , dan yang paling sulit yaitu melakukan semua hal tersebut dengan ikhlas karena selalu ada saja pamrih yang terselip.
Alhamdulillah, kini saya bisa mengajar dengan perasaan nyaman, benar- benar nyaman, tidak ada lagi perasaan tertekan. Bila teringat pada anak-anak di kelas, yang muncul di hati adalah semangat baru untuk menjalani kegiatan esok hari bersama mereka . Sungguh saya merasa anak anak kelas IB adalah anugerah, karena dari mereka saya banyak belajar. Perilaku mereka ketika itu justru merupakan proses pembelajaran bagi saya, terutama dalam bersikap kepada anak didik. Kelas IB sekarang sudah bukan lagi kelas yang ‘bermasalah’, tetapi menjadi kelas yang ‘luar biasa’ yang menyenangkan dan menantang, setidaknya bagi saya dan semoga juga bagi guru yang lain.
|